Imam Al-Laits bin Sa’d: Ulama Besar
Mesir yang Jarang Dikenal

Ketika orang membicarakan ulama
besar Mesir, nama Imam Asy-Syafi’i hampir selalu muncul lebih dulu. Padahal
sebelum beliau tiba, Mesir sudah punya seorang imam besar yang fatwa dan
kedermawanannya dikenal luas: Imam Al-Laits bin Sa’d. Para ulama besar
memujinya setinggi itu, tetapi namanya jarang terdengar di kalangan pelajar
hari ini.
Artikel ini mengajak Anda mengenal
beliau: dari kampung kelahirannya dekat Kairo, guru-gurunya, hubungannya dengan
Imam Malik, sampai alasan mengapa mazhabnya tidak bertahan. Di bagian akhir,
kita lihat pelajaran apa yang bisa dipetik oleh calon pelajar yang ingin
belajar di Mesir.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Sekilas
tentang Imam Al-Laits bin Sa’d
Nama lengkap beliau Abu al-Harits
al-Laits bin Sa’d bin Abdurrahman al-Fahmi. Beliau lahir pada pertengahan
Sya’ban tahun 94 H (sekitar 713 M) di Qalqasyandah, sebuah kampung di Provinsi
Qalyubiyyah, sekitar sepuluh kilometer dari Kairo. Saat itu Mesir berada di
bawah kekuasaan Bani Umayyah. Sebagian sumber menyebut keluarga beliau berasal
dari Persia.
Para ulama menggelarinya hafiz,
syaikhul Islam, dan alim negeri Mesir. Beliau menekuni dua bidang sekaligus,
yaitu hadis dan fikih. Beliau juga dikenal berfatwa secara mandiri, artinya
tidak terikat pada mazhab imam lain.
Guru
dan Perjalanan Menuntut Ilmu
Imam Al-Laits belajar kepada banyak
ulama. Beberapa nama gurunya yang tercatat:
- Yahya bin Sa’id al-Anshari, imam dari Madinah.
- Yazid bin Abi Habib,
ulama yang meriwayatkan hadis.
- Ja’far bin Rabi’ah
dan Ubaidillah bin Abi Ja’far.
- Abdullah bin Hubairah as-Saba’i, perawi hadis.
Beliau tidak hanya belajar di Mesir.
Setiap kali berangkat haji, umrah, atau berziarah ke Masjid Nabawi, beliau
singgah di Madinah dan bertemu ulama di sana. Di Baghdad, beliau juga pernah
bertemu Khalifah Al-Mahdi dari Bani Abbasiyah, yang menurut sumber yang kami
baca sangat kagum pada keluasan ilmunya.
Kebiasaan rihlah, yaitu
bepergian untuk mencari dan bertukar ilmu, memang menjadi ciri ulama pada masa
itu.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Hubungan
dengan Imam Malik
Setelah kembali ke Mesir, Imam
Al-Laits tetap berhubungan dengan Imam Malik lewat surat. Beliau pernah
mengundang Imam Malik berkunjung ke Mesir, tetapi undangan itu tidak dapat
dipenuhi. Setiap kali ke Madinah, beliau menyempatkan diri menemui Imam Malik. Sumber
yang kami baca juga menyebut beliau mengunjungi imam-imam besar lain di
Madinah, termasuk Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi’i.
Hubungan ini menunjukkan tradisi
ilmiah yang saling menghormati. Dua ulama besar tinggal di dua kota berbeda,
tetapi terus bertukar ilmu. Imam Malik wafat pada tahun 179 H, beberapa tahun
setelah Al-Laits.
Pujian
Para Ulama
Nama Imam Al-Laits disebut dengan
hormat oleh ulama-ulama besar:
- Imam Ahmad bin Hanbal
menilai ilmu beliau sangat mendalam dan riwayat hadisnya sahih.
- Imam Asy-Syafi’i,
menurut riwayat yang dinukil banyak buku, menilai Al-Laits lebih alim
daripada Imam Malik.
- Dar Al-Ifta Mesir
menggambarkan beliau sebagai hafiz, syaikhul Islam, sekaligus alim negeri
Mesir.
Pujian dari para imam mazhab ini
menunjukkan betapa tinggi kedudukan beliau di mata ulama sezamannya dan
sesudahnya.
Mengajar
di Fustat dan Kedermawanan
Imam Al-Laits mengajar di Fustat,
kota ilmu lama yang kini menjadi bagian dari Kairo. Menurut sumber yang kami
baca, menjelang akhir hayatnya beliau masih mengajar dan berkumpul bersama
murid-muridnya.
Sebuah artikel ilmiah menyebut
beliau sebagai guru besar sekaligus penyokong kehidupan ilmiah Mesir. Dar
Al-Ifta Mesir juga mengaitkan namanya dengan kedermawanan. Dua sifat ini, ilmu
dan kedermawanan, membuatnya dihormati banyak orang.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Wafat
dan Banyaknya Pelayat
Imam Al-Laits wafat pada tahun 175 H
(sekitar 791 M) dalam usia sekitar 81 tahun. Sebagian sumber mencatat tahun
yang sedikit berbeda, antara 170 dan 175 H, dan ada yang menyebut 173 H. Karena
itu, artikel ini memakai tahun 175 H sebagaimana dicatat Dar Al-Ifta Mesir.
Dar Al-Ifta Mesir menukil kesaksian
seorang pelayat bernama Khalid bin Abdussalam ash-Shadafi. Ia mengatakan belum
pernah melihat jenazah yang pelayatnya sebanyak itu. Menurut kesaksian
tersebut, orang-orang larut dalam duka dan saling menghibur, seolah-olah setiap
orang kehilangan keluarganya sendiri.
Mengapa
Mazhabnya Tidak Bertahan?
Sebelum Imam Asy-Syafi’i tiba di
Mesir pada tahun 199 H, di sana sudah berkembang mazhab Maliki, mazhab
Al-Laits, dan mazhab Hanafi. Namun mazhab Al-Laits tidak bertahan lama.
Sebagian penulis menyebut mazhab itu lenyap seiring wafatnya beliau. Setelah
itu, mazhab Syafi’i berkembang cepat dan menyebar jauh melampaui Mesir.
Itulah sebabnya banyak orang hari
ini mengenal Imam Asy-Syafi’i, tetapi tidak mengenal Al-Laits. Namun sebuah
mazhab yang tidak bertahan bukan ukuran rendahnya ilmu pemiliknya. Pujian para
imam besar kepada beliau menjadi buktinya.
Pelajaran
bagi Calon Pelajar yang Ingin Belajar di Mesir
Kisah Imam Al-Laits memberi tiga
pelajaran. Pertama, nama yang jarang terdengar bisa menyimpan ilmu yang sangat
besar, jadi jangan berhenti pada tokoh yang paling populer. Kedua, ilmu tumbuh
dari perjalanan dan pertemuan dengan banyak guru, sebagaimana beliau berkunjung
ke Madinah dan Baghdad. Ketiga, ilmu dan kedermawanan sebaiknya berjalan
bersama.
Di Mesir hari ini, pelajar Indonesia
bisa meneladani semangat itu lewat tradisi talaqqi, belajar langsung dari
syaikh, mengikuti kajian ilmiah mahasiswa Indonesia di
Mesir, dan belajar dari kisah para alumni Al-Azhar Indonesia.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Pertanyaan
yang Sering Diajukan
Siapa Imam Al-Laits bin Sa’d? Beliau adalah ulama besar Mesir abad ke-2 H yang ahli hadis
dan fikih. Beliau dikenal sebagai imam, hafiz, dan alim negeri Mesir.
Kapan Imam Al-Laits lahir dan wafat? Beliau lahir pada Sya’ban 94 H (sekitar 713 M) di
Qalqasyandah, dekat Kairo, dan wafat pada tahun 175 H (sekitar 791 M). Sebagian
sumber mencatat tahun wafat yang sedikit berbeda.
Apa hubungan Imam Al-Laits dengan
Imam Malik? Keduanya saling berhubungan lewat
surat, dan Imam Al-Laits menemui Imam Malik setiap kali berkunjung ke Madinah.
Artikel ini mengajak Anda mengenal
beliau: dari kampung kelahirannya dekat Kairo, guru-gurunya, hubungannya dengan
Imam Malik, sampai alasan mengapa mazhabnya tidak bertahan. Di bagian akhir,
kita lihat pelajaran apa yang bisa dipetik oleh calon pelajar yang ingin
belajar di Mesir.
Sekilas
tentang Imam Al-Laits bin Sa’d
Nama lengkap beliau Abu al-Harits
al-Laits bin Sa’d bin Abdurrahman al-Fahmi. Beliau lahir pada pertengahan
Sya’ban tahun 94 H (sekitar 713 M) di Qalqasyandah, sebuah kampung di Provinsi
Qalyubiyyah, sekitar sepuluh kilometer dari Kairo. Saat itu Mesir berada di
bawah kekuasaan Bani Umayyah. Sebagian sumber menyebut keluarga beliau berasal
dari Persia.
Para ulama menggelarinya hafiz,
syaikhul Islam, dan alim negeri Mesir. Beliau menekuni dua bidang sekaligus,
yaitu hadis dan fikih. Beliau juga dikenal berfatwa secara mandiri, artinya
tidak terikat pada mazhab imam lain.
Guru
dan Perjalanan Menuntut Ilmu
Imam Al-Laits belajar kepada banyak
ulama. Beberapa nama gurunya yang tercatat:
- Yahya bin Sa’id al-Anshari, imam dari Madinah.
- Yazid bin Abi Habib,
ulama yang meriwayatkan hadis.
- Ja’far bin Rabi’ah
dan Ubaidillah bin Abi Ja’far.
- Abdullah bin Hubairah as-Saba’i, perawi hadis.
Beliau tidak hanya belajar di Mesir.
Setiap kali berangkat haji, umrah, atau berziarah ke Masjid Nabawi, beliau
singgah di Madinah dan bertemu ulama di sana. Di Baghdad, beliau juga pernah
bertemu Khalifah Al-Mahdi dari Bani Abbasiyah, yang menurut sumber yang kami
baca sangat kagum pada keluasan ilmunya.
Kebiasaan rihlah, yaitu
bepergian untuk mencari dan bertukar ilmu, memang menjadi ciri ulama pada masa
itu.
Hubungan
dengan Imam Malik
Setelah kembali ke Mesir, Imam
Al-Laits tetap berhubungan dengan Imam Malik lewat surat. Beliau pernah
mengundang Imam Malik berkunjung ke Mesir, tetapi undangan itu tidak dapat
dipenuhi. Setiap kali ke Madinah, beliau menyempatkan diri menemui Imam Malik. Sumber
yang kami baca juga menyebut beliau mengunjungi imam-imam besar lain di
Madinah, termasuk Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi’i.
Hubungan ini menunjukkan tradisi
ilmiah yang saling menghormati. Dua ulama besar tinggal di dua kota berbeda,
tetapi terus bertukar ilmu. Imam Malik wafat pada tahun 179 H, beberapa tahun
setelah Al-Laits.
Pujian
Para Ulama
Nama Imam Al-Laits disebut dengan
hormat oleh ulama-ulama besar:
- Imam Ahmad bin Hanbal
menilai ilmu beliau sangat mendalam dan riwayat hadisnya sahih.
- Imam Asy-Syafi’i,
menurut riwayat yang dinukil banyak buku, menilai Al-Laits lebih alim
daripada Imam Malik.
- Dar Al-Ifta Mesir
menggambarkan beliau sebagai hafiz, syaikhul Islam, sekaligus alim negeri
Mesir.
Pujian dari para imam mazhab ini
menunjukkan betapa tinggi kedudukan beliau di mata ulama sezamannya dan
sesudahnya.
Mengajar
di Fustat dan Kedermawanan
Imam Al-Laits mengajar di Fustat,
kota ilmu lama yang kini menjadi bagian dari Kairo. Menurut sumber yang kami
baca, menjelang akhir hayatnya beliau masih mengajar dan berkumpul bersama
murid-muridnya.
Sebuah artikel ilmiah menyebut
beliau sebagai guru besar sekaligus penyokong kehidupan ilmiah Mesir. Dar
Al-Ifta Mesir juga mengaitkan namanya dengan kedermawanan. Dua sifat ini, ilmu
dan kedermawanan, membuatnya dihormati banyak orang.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Wafat
dan Banyaknya Pelayat
Imam Al-Laits wafat pada tahun 175 H
(sekitar 791 M) dalam usia sekitar 81 tahun. Sebagian sumber mencatat tahun
yang sedikit berbeda, antara 170 dan 175 H, dan ada yang menyebut 173 H. Karena
itu, artikel ini memakai tahun 175 H sebagaimana dicatat Dar Al-Ifta Mesir.
Dar Al-Ifta Mesir menukil kesaksian
seorang pelayat bernama Khalid bin Abdussalam ash-Shadafi. Ia mengatakan belum
pernah melihat jenazah yang pelayatnya sebanyak itu. Menurut kesaksian
tersebut, orang-orang larut dalam duka dan saling menghibur, seolah-olah setiap
orang kehilangan keluarganya sendiri.
Mengapa
Mazhabnya Tidak Bertahan?
Sebelum Imam Asy-Syafi’i tiba di
Mesir pada tahun 199 H, di sana sudah berkembang mazhab Maliki, mazhab
Al-Laits, dan mazhab Hanafi. Namun mazhab Al-Laits tidak bertahan lama.
Sebagian penulis menyebut mazhab itu lenyap seiring wafatnya beliau. Setelah
itu, mazhab Syafi’i berkembang cepat dan menyebar jauh melampaui Mesir.
Itulah sebabnya banyak orang hari
ini mengenal Imam Asy-Syafi’i, tetapi tidak mengenal Al-Laits. Namun sebuah
mazhab yang tidak bertahan bukan ukuran rendahnya ilmu pemiliknya. Pujian para
imam besar kepada beliau menjadi buktinya.
Pelajaran
bagi Calon Pelajar yang Ingin Belajar di Mesir
Kisah Imam Al-Laits memberi tiga
pelajaran. Pertama, nama yang jarang terdengar bisa menyimpan ilmu yang sangat
besar, jadi jangan berhenti pada tokoh yang paling populer. Kedua, ilmu tumbuh
dari perjalanan dan pertemuan dengan banyak guru, sebagaimana beliau berkunjung
ke Madinah dan Baghdad. Ketiga, ilmu dan kedermawanan sebaiknya berjalan
bersama.
Di Mesir hari ini, pelajar Indonesia
bisa meneladani semangat itu lewat tradisi talaqqi, belajar langsung dari
syaikh, mengikuti kajian ilmiah mahasiswa Indonesia di
Mesir, dan belajar dari kisah para alumni Al-Azhar Indonesia.
Pertanyaan
yang Sering Diajukan
Siapa Imam Al-Laits bin Sa’d? Beliau adalah ulama besar Mesir abad ke-2 H yang ahli hadis
dan fikih. Beliau dikenal sebagai imam, hafiz, dan alim negeri Mesir.
Kapan Imam Al-Laits lahir dan wafat? Beliau lahir pada Sya’ban 94 H (sekitar 713 M) di
Qalqasyandah, dekat Kairo, dan wafat pada tahun 175 H (sekitar 791 M). Sebagian
sumber mencatat tahun wafat yang sedikit berbeda.
Apa hubungan Imam Al-Laits dengan
Imam Malik? Keduanya saling berhubungan lewat
surat, dan Imam Al-Laits menemui Imam Malik setiap kali berkunjung ke Madinah.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Sejarah dan Budaya Administrator 30 Oct 2026 07:51am
-
Komentar : 0
Berikan komentar terbaik Anda
Kategori
- 18
- 8
- 24
- 111
- 9
Tulisan Terbaru
-
Imam Al-Laits bin Sa’d: Ulama Besar Mesir yang Jarang Dikenal
30 Oct 2026 07:51am -
Imam Asy-Syafi’i di Mesir: Masa Akhir Hidup dan Qaul Jadid
29 Oct 2026 08:14am -
Dari Pembinaan Menuju Pencapaian: Santri Helwa Center Mesir Raih Kelas Tsanawy Ma’had Al-Azhar
28 Oct 2026 08:22am -
Pelajar Indonesia di Kairo dan Semangat Sumpah Pemuda
27 Oct 2026 08:35am -
Program "2000 Lc untuk Negeri": Gerakan Alumni Al-Azhar Kembali ke Masyarakat
26 Oct 2026 08:56am -
Pulang ke Indonesia Setelah Lulus Al-Azhar: Adaptasi dan Langkah Pertama
23 Oct 2026 09:18am -
Fenomena "Mahasiswa Selebgram" di Kalangan Masisir: Peluang atau Distraksi?
22 Oct 2026 07:18am -
Cara Mahasiswa Indonesia Merayakan Idul Fitri dan Idul Adha di Kairo
21 Oct 2026 08:24am -
Media dan Pers Mahasiswa Indonesia di Mesir yang Perlu Anda Kenal
20 Oct 2026 07:41am -
Aplikasi dan Tools Wajib Mahasiswa Al-Azhar di Era Digital
19 Oct 2026 07:23am
