Imam Asy-Syafi’i di Mesir: Masa Akhir Hidup dan Qaul
Jadid

Nama Imam Asy-Syafi’i sangat akrab
bagi umat Islam di Indonesia. Mazhab fikih yang beliau bangun dipelajari di
pesantren, majelis taklim, dan kampus di seluruh negeri. Namun tidak semua
orang tahu bahwa bagian penting dari pemikiran beliau lahir di Kairo. Di
sanalah Imam Asy-Syafi’i di Mesir menghabiskan tahun-tahun terakhir
hidupnya, menyempurnakan karya besarnya, dan mengajar murid-murid yang kelak
menyebarkan mazhabnya.
Artikel ini mengajak Anda menelusuri
perjalanan beliau menuju Mesir, lahirnya qaul jadid (pendapat baru),
murid-muridnya yang terkenal, sampai wafatnya. Di bagian akhir, kita lihat
mengapa kisah ini penting bagi pelajar yang ingin belajar di Mesir hari ini.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Sekilas
tentang Imam Asy-Syafi’i
Imam Asy-Syafi’i lahir pada tahun
150 H (sekitar 767 M) di Gaza, Palestina. Sebagian riwayat menyebut Asqalan
sebagai tempat kelahirannya. Ayahnya wafat saat beliau masih kecil, sehingga
beliau tumbuh sebagai anak yatim dalam asuhan ibunya, yang kemudian membawanya
ke Makkah.
Di Makkah, beliau menghafal
Al-Qur’an sejak usia belia dan belajar kepada ulama setempat, di antaranya
Muslim bin Khalid az-Zanji. Beliau lalu berguru kepada Imam Malik di Madinah,
kemudian belajar di Yaman dan Irak. Perjalanan panjang itu mempertemukan beliau
dengan dua corak besar fikih: tradisi ahli hadis di Hijaz dan tradisi ahli
ra’yu di Irak. Perpaduan itu membuat fikih Syafi’i dikenal berada di posisi
tengah di antara mazhab Maliki dan Hanafi.
Perjalanan
Menuju Mesir
Setelah mengajar di Baghdad, Imam
Asy-Syafi’i berangkat ke Mesir pada tahun 199 H. Sebagian riwayat menyebut
tahun 198 H. Usia beliau saat itu sekitar lima puluh tahun. Beliau menetap di
Fustat, kota lama yang kini menjadi bagian dari Kairo.
Ketika beliau tiba, penduduk Mesir
banyak mengikuti mazhab Hanafi dan Maliki. Di tengah suasana itulah beliau mengajar,
berdiskusi, dan mendiktekan ilmunya kepada murid-murid. Mesir memberi beliau
lingkungan ilmiah yang baru, dengan masyarakat, adat, dan tantangan yang
berbeda dari Irak. Menurut sebagian penulis sejarah, suasana baru inilah yang
ikut memengaruhi arah fikih beliau pada tahun-tahun terakhir hidupnya.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Lahirnya
Qaul Jadid
Para ulama membedakan dua fase
pendapat Imam Asy-Syafi’i. Pendapat yang beliau sampaikan ketika di Irak
disebut qaul qadim (pendapat lama). Pendapat yang beliau sampaikan
setelah menetap di Mesir disebut qaul jadid (pendapat baru).
Beberapa karya penting yang
berkaitan dengan masa di Mesir:
- Ar-Risalah,
kitab dasar ilmu ushul fikih. Kitab ini mulai disusun ketika beliau di
Baghdad, lalu disusun ulang dan disempurnakan di Mesir sehingga dikenal
sebagai Ar-Risalah al-Jadidah.
- Al-Umm,
kitab fikih utama dalam mazhab Syafi’i, yang memuat pendapat-pendapat baru
beliau.
- Al-Imla’ dan Al-Amali,
kitab-kitab yang didiktekan kepada murid-murid beliau.
Dalam mazhab Syafi’i, para ulama
pengikutnya umumnya memegang qaul jadid sebagai pendapat mazhab. Fatwa lama
yang bertentangan dengan fatwa baru dianggap sudah ditinggalkan. Karena itu,
tahun-tahun beliau di Mesir yang hanya sekitar lima tahun punya pengaruh yang
sangat besar bagi perkembangan mazhab ini.
Murid-Murid
Imam Asy-Syafi’i di Mesir
Pendapat-pendapat baru beliau sampai
kepada kita terutama lewat murid-muridnya di Mesir. Beberapa nama yang sering
disebut:
- Al-Buwaithi
(Yusuf bin Yahya), tercatat wafat tahun 231 H. Beliau dikenal sebagai
murid senior yang meneruskan halaqah gurunya.
- Al-Muzani
(Ismail bin Yahya), tercatat wafat tahun 264 H. Beliau dikenal luas
sebagai penulis ringkasan fikih mazhab.
- Ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi, tercatat wafat tahun 270 H. Beliau banyak
meriwayatkan kitab-kitab gurunya.
- Ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Jizi, tercatat wafat tahun 257 H.
- Harmalah bin Yahya,
tercatat wafat tahun 241 H. Salah satu kitab beliau didiktekan kepadanya.
Melalui merekalah mazhab Syafi’i
tersebar di Mesir, lalu ke berbagai penjuru dunia Islam.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Wafat
dan Makam Beliau
Imam Asy-Syafi’i wafat di Mesir pada
akhir bulan Rajab tahun 204 H, tepatnya pada malam Jumat. Banyak riwayat
menyebut usia beliau sekitar 54 tahun. Tahun masehinya dicatat berbeda-beda
oleh sumber yang berbeda, yaitu sekitar 819 hingga 822 M. Karena itu, tulisan
ini memakai kata “sekitar 820 M”.
Beliau dimakamkan di Mesir. Makam
beliau di Kairo sampai sekarang masih diziarahi orang dari berbagai negara.
Warisan
Imam Asy-Syafi’i bagi Muslim Indonesia
Mazhab Syafi’i adalah mazhab yang
paling banyak dianut umat Islam di Indonesia. Kitab-kitab fikih bermazhab
Syafi’i diajarkan di banyak pesantren, dan banyak ulama Nusantara belajar
kepada guru-guru yang sanadnya bersambung ke murid-murid Imam Asy-Syafi’i.
Pelajar Indonesia di Mesir hari ini
masih merasakan jejak itu. Mereka belajar fikih lintas mazhab di Al-Azhar dan
mengikuti tradisi talaqqi, belajar langsung dari
syaikh. Mereka juga bisa menghadiri berbagai kajian ilmiah mahasiswa Indonesia di
Mesir. Banyak alumni yang pulang membawa ilmu itu ke tanah air.
Kenali sebagian tokohnya di Alumni Al-Azhar yang Menjadi Tokoh
Nasional Indonesia.
Pelajaran
bagi Calon Pelajar yang Ingin Belajar di Mesir
Kisah Imam Asy-Syafi’i memberi tiga
pelajaran. Pertama, menuntut ilmu sering menuntut kita keluar dari tempat yang
nyaman, sebagaimana beliau berpindah dari Makkah ke Madinah, Yaman, Irak,
hingga Mesir. Kedua, ilmu yang baik terus disempurnakan melalui belajar,
mengajar, dan bertemu lingkungan baru. Ketiga, ilmu menjadi hidup ketika
diwariskan kepada murid yang sungguh-sungguh.
Jika Anda atau putra-putri Anda
berencana belajar di Mesir, Helwa Center siap membantu. Kami adalah lembaga
konsultan pendidikan yang memfasilitasi calon pelajar Indonesia di institusi
Al-Azhar sejak 2015, berkantor di Nasr City, Kairo. Hubungi kami lewat WhatsApp
di +62 858-8383-8373 atau pelajari program kami di website Helwa Center.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Pertanyaan
yang Sering Diajukan
Kapan Imam Asy-Syafi’i tiba di
Mesir? Beliau tiba di Mesir pada tahun 199
H. Sebagian riwayat menyebut tahun 198 H.
Apa itu qaul jadid? Qaul jadid adalah pendapat-pendapat baru Imam Asy-Syafi’i
yang beliau sampaikan setelah menetap di Mesir. Pendapat sebelumnya, ketika di
Irak, disebut qaul qadim.
Kitab apa yang beliau susun atau
sempurnakan di Mesir? Antara lain Ar-Risalah al-Jadidah
dan Al-Umm. Beliau juga mendiktekan kitab seperti Al-Imla’ dan Al-Amali kepada
murid-muridnya.
Kapan Imam Asy-Syafi’i wafat? Beliau wafat pada akhir Rajab tahun 204 H di Mesir, dalam
usia sekitar 54 tahun.
Sejarah dan Budaya Administrator 29 Oct 2026 08:14am
-
Komentar : 0
Berikan komentar terbaik Anda
Kategori
- 18
- 8
- 24
- 111
- 8
Tulisan Terbaru
-
Imam Asy-Syafi’i di Mesir: Masa Akhir Hidup dan Qaul Jadid
29 Oct 2026 08:14am -
Dari Pembinaan Menuju Pencapaian: Santri Helwa Center Mesir Raih Kelas Tsanawy Ma’had Al-Azhar
28 Oct 2026 08:22am -
Pelajar Indonesia di Kairo dan Semangat Sumpah Pemuda
27 Oct 2026 08:35am -
Program "2000 Lc untuk Negeri": Gerakan Alumni Al-Azhar Kembali ke Masyarakat
26 Oct 2026 08:56am -
Pulang ke Indonesia Setelah Lulus Al-Azhar: Adaptasi dan Langkah Pertama
23 Oct 2026 09:18am -
Fenomena "Mahasiswa Selebgram" di Kalangan Masisir: Peluang atau Distraksi?
22 Oct 2026 07:18am -
Cara Mahasiswa Indonesia Merayakan Idul Fitri dan Idul Adha di Kairo
21 Oct 2026 08:24am -
Media dan Pers Mahasiswa Indonesia di Mesir yang Perlu Anda Kenal
20 Oct 2026 07:41am -
Aplikasi dan Tools Wajib Mahasiswa Al-Azhar di Era Digital
19 Oct 2026 07:23am -
Mengenali Pikiran, Memahami Perasaan: Belajar Psikologi Bersama Kuttab Helwa Center Mesir
16 Oct 2026 07:43am
